Jakarta, Technologue.id — Pasar kerja global tengah berada dalam fase yang tidak mudah. Perekrutan di banyak sektor disebut membeku, namun satu bidang justru menunjukkan pertumbuhan yang mencolok. LinkedIn mencatat posisi di bidang AI safety atau keamanan kecerdasan buatan melonjak 91% dalam setahun terakhir.

Data tersebut disampaikan LinkedIn dalam riset yang dirilis bertepatan dengan ajang Talent Connect. CEO LinkedIn, Daniel Shapero, mengungkapkan bahwa kondisi pasar kerja saat ini memang tidak merata. Sebagian industri stagnan, sementara sektor lain terus membuka peluang baru.

"AI safety adalah sesuatu yang banyak dibicarakan orang," kata Shapero dalam konferensi tersebut, dikutip dari Business Insider. Pernyataan itu menegaskan bahwa isu keamanan AI kini bukan lagi sekadar wacana akademik. Topik ini telah bergeser menjadi kebutuhan industri yang nyata.

Bidang AI safety berfokus pada upaya memastikan sistem kecerdasan buatan beroperasi secara aman dan etis. Lingkup pekerjaannya cukup luas, mulai dari riset teknis, mitigasi risiko, hingga penyusunan kebijakan. Ada pula peran yang bertugas mengintegrasikan kerangka keamanan ke dalam produk AI yang digunakan publik.

Menariknya, posisi-posisi ini menawarkan kompensasi yang tidak main-main. Data scientist di tim Safety OpenAI disebut bisa mengantongi hingga US$325.000 per tahun atau sekitar Rp5 miliar. Angka itu menjadikan AI safety sebagai salah satu bidang dengan bayaran tertinggi di industri teknologi saat ini.

Anthropic juga tidak kalah agresif. Perusahaan tersebut mencantumkan kompensasi hingga US$285.000 untuk posisi safeguards enforcement analyst yang berfokus pada keamanan anak. Sementara Google membuka lowongan policy strategist untuk anak dan keluarga dengan bayaran mencapai US$239.000. Paket tersebut masih ditambah bonus target 20% serta equity.

Di sisi lain, Meta menawarkan hingga US$209.000 untuk program manager di tim Integrity GRC. Bonus dan equity turut melengkapi paket remunerasi tersebut. Deretan angka ini menunjukkan bahwa perusahaan teknologi raksasa serius menempatkan keamanan AI sebagai prioritas strategis.

Kekhawatiran soal risiko keamanan memang menjadi latar belakang tumbuhnya bidang ini. Pada April lalu, Anthropic memperingatkan soal kerentanan dan kemampuan eksploitasi pada model Mythos. Insiden itu menjadi salah satu pemicu diskusi publik mengenai batas aman pengembangan AI.

Belum lama berselang, model OpenAI juga ditemukan mengakses dataset internal Hugging Face pada Juli. Temuan tersebut memperkuat argumen bahwa pengawasan terhadap sistem AI perlu diperketat. Insiden semacam ini menjadi alasan mengapa perusahaan membutuhkan tenaga ahli di bidang keamanan.

Isu ini bahkan sempat memanas setelah peneliti Anthropic, Jacob Coxon, mengundurkan diri dari perusahaan. Ia mengklaim bahwa laboratorium frontier sedang "mempertaruhkan hidup kita". Pernyataan itu memicu debat viral dan menambah tekanan publik terhadap industri AI.

Transformasi pasar kerja akibat AI juga melahirkan peran-peran baru di luar keamanan. Sejak 2023, teknologi ini disebut telah menciptakan hampir 2 juta lapangan kerja baru. Pertumbuhannya terbilang cepat dalam satu tahun terakhir. Beberapa posisi mencatat kenaikan fantastis, seperti forward-deployed AI experts yang naik 226% dan AI forensic analysts yang naik 169%.

Keamanan siber juga diprediksi menjadi salah satu kategori pekerjaan paling panas. CEO Box, Aaron Levie, menyebut AI bisa menjadikan keamanan siber sebagai kategori kerja paling diminati. Hal ini sejalan dengan meningkatnya kebutuhan perlindungan data di berbagai organisasi, termasuk di sektor usaha kecil dan menengah yang mulai mengadopsi teknologi ini.

Proyeksi pemerintah Amerika Serikat turut memperkuat tren tersebut. Bureau of Labor Statistics memperkirakan peran information security analysts tumbuh 21% antara 2025 dan 2035. Angka ini menjadikan keamanan siber sebagai salah satu jalur karier paling stabil di tengah ketidakpastian ekonomi.

Bagi talenta di Indonesia, gelombang ini membuka peluang yang cukup besar. Perusahaan teknologi global kini mencari kandidat dari berbagai negara, terutama untuk posisi yang bisa dikerjakan secara remote. Kemampuan teknis, pemahaman kebijakan, dan literasi risiko menjadi kombinasi yang dicari.

Meski demikian, persaingan di bidang ini tidak ringan. Kandidat dituntut memahami cara kerja model AI sekaligus implikasi etisnya. Kombinasi keterampilan teknis dan pemahaman regulasi menjadi nilai tambah yang membedakan pelamar. Infrastruktur komputasi yang terus berkembang, seperti yang dibangun sejumlah vendor, juga menjadi fondasi tumbuhnya kebutuhan tenaga ahli ini.

Dengan tren yang terus naik, AI safety bukan lagi sekadar pelengkap. Bidang ini telah menjelma menjadi jalur karier yang menjanjikan secara finansial dan relevan secara sosial. Bagi mereka yang siap, gelombang lowongan ini bisa menjadi pintu masuk ke industri teknologi masa depan.