Jakarta, Technologue.id — Sebuah penelitian yang terbit pada 1960 pernah meramalkan bahwa dunia akan menghadapi kiamat pada 13 November 2026. Bukan karena perang atau bencana alam, melainkan akibat ledakan populasi yang membuat manusia saling berdesakan hingga tak lagi memiliki ruang untuk hidup.

Prediksi tersebut disampaikan Heinz von Foerster, fisikawan dari University of Illinois, dalam makalah yang diterbitkan jurnal Science. Ia memperkirakan populasi manusia akan terus tumbuh secara eksponensial hingga mendekati tak terhingga.

Dalam skenario yang dibayangkannya, manusia tidak akan mati kelaparan seperti yang banyak dikhawatirkan pada masa itu. Sebaliknya, kepadatan penduduk justru menjadi penyebab utama kehancuran peradaban.

"Pada tanggal ini, populasi manusia akan mendekati tak terhingga jika tumbuh seperti pertumbuhannya selama dua milenium terakhir," tulis makalah tersebut, dikutip dari New York Post, Rabu (4/11/2026). "Cicit kita tidak akan kelaparan. Mereka akan terhimpit hingga mati," ungkap von Foerster dalam makalahnya.

Kekhawatiran terhadap ledakan populasi kian menguat ketika ahli biologi Paul R. Ehrlich menerbitkan buku The Population Bomb pada 1968. Buku itu memperkuat narasi bahwa pertumbuhan penduduk tak terkendali akan membawa dunia menuju kehancuran.

Namun, seiring berjalannya waktu, pertumbuhan penduduk dunia tidak mengikuti skenario yang diperkirakan kedua ilmuwan tersebut. Kenyataan di lapangan berjalan ke arah yang sangat berbeda dari ramalan mereka.

Pada 1993, ketika dunia berada di tengah rentang waktu menuju tanggal kiamat yang diramalkan, tren populasi mulai menunjukkan bahwa prediksi itu meleset. Angka kelahiran global pun tercatat terus menurun dalam beberapa dekade terakhir.

Kini, angka kelahiran global tercatat sekitar setengah dari tingkat pada 1960. Dengan kondisi tersebut, 13 November 2026 diperkirakan akan berlalu tanpa bencana kepadatan penduduk seperti yang diramalkan von Foerster.

Kesalahan prediksi itu berakar pada cara von Foerster dan Ehrlich memahami pertumbuhan populasi. Tim von Foerster menganalisis 24 perkiraan jumlah penduduk dunia selama 2.000 tahun untuk membangun model ramalannya.

Mereka menganggap kemampuan manusia untuk berinovasi serta bekerja sama akan mendorong pertumbuhan tanpa batas. Padahal, peningkatan populasi saat itu terutama didorong kemajuan kedokteran, sanitasi, dan produksi pangan.

Kemajuan di bidang kesehatan membuat lebih banyak anak bertahan hidup hingga dewasa. Ketika angka kematian menurun, keluarga justru mulai memiliki lebih sedikit anak sebagai respons terhadap perubahan kondisi sosial ekonomi.

Perubahan ini semakin kuat seiring meluasnya penggunaan kontrasepsi dan urbanisasi di berbagai belahan dunia. Dua faktor itu mengubah pola keluarga secara signifikan dibandingkan era ketika makalah von Foerster ditulis.

"Melihat ke belakang, keduanya benar, tetapi mereka salah dalam memprediksi masa depan," kata Joel Cohen, profesor dan ahli biologi matematika di Columbia University, seperti dikutip dalam laporan tersebut.

Pernyataan Cohen menyoroti bahwa pemahaman terhadap tren populasi perlu mempertimbangkan dinamika sosial yang terus berubah. Model matematika yang akurat pada masanya belum tentu mampu meramalkan perilaku manusia di masa depan.

Isu kepadatan penduduk juga berkaitan erat dengan berbagai persoalan lain, termasuk tata kelola ruang hidup dan infrastruktur. Sebagai contoh, pembahasan soal Data Center AI turut menyoroti dampak pembangunan terhadap lingkungan sekitar.

Selain itu, dinamika geopolitik juga memengaruhi persebaran dan kesejahteraan penduduk, seperti terlihat dalam pembahasan Krisis Selat Hormuz yang berdampak pada stabilitas kawasan. Sementara itu, peristiwa personal figur publik seperti Elon Musk kerap menjadi sorotan tersendiri di ruang publik.

Dengan tren kelahiran yang terus menurun, tanggal 13 November 2026 kemungkinan besar akan dikenang sebagai pengingat betapa rumitnya meramalkan masa depan umat manusia. Ramalan kiamat von Foerster menjadi pelajaran bahwa proyeksi ekstrem perlu dibaca dengan kritis dan berbasis data yang terus diperbarui.