Jakarta, Technologue.id - Dua raksasa baterai asal Tiongkok, CATL dan BYD, masih belum terbendung dalam menguasai pasar baterai kendaraan listrik global. Sepanjang Januari-September 2026, keduanya bersama-sama mencatatkan pangsa pasar hingga 54,3 persen dari total penggunaan baterai EV dunia.

Data terbaru dari lembaga riset pasar asal Korea Selatan, SNE Research, yang dirilis Senin (15/10/2026) menunjukkan total penggunaan baterai EV global mencapai 994,5 GWh. Angka tersebut tumbuh 19,7 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Menariknya, instalasi baterai pada September 2026 mencetak rekor bulanan sebesar 145,1 GWh. Meski begitu, pertumbuhan year-on-year pada bulan tersebut melambat menjadi 15,8 persen, lebih rendah dari laju pertumbuhan kumulatif sembilan bulan pertama.

CATL (HKEX: 3750) tetap kokoh di posisi puncak dengan instalasi baterai sebesar 389,2 GWh, naik 24,9 persen secara year-on-year. Capaian ini melampaui pertumbuhan pasar secara keseluruhan, sehingga pangsa globalnya naik menjadi 39,1 persen dari sebelumnya 37,5 persen pada tahun lalu.

Meski demikian, pangsa CATL tercatat turun tipis 0,3 poin persentase dibandingkan periode Januari-Agustus 2026 yang sebesar 39,4 persen. Ekspansi CATL disebut terus berlanjut berkat perluasan basis pelanggan pabrikan otomotif di luar Tiongkok.

Di posisi kedua, BYD (HKEX: 1211) membukukan instalasi baterai 150,9 GWh atau tumbuh 7,4 persen year-on-year. Pangsa pasarnya turun menjadi 15,2 persen dari 16,9 persen setahun sebelumnya, meski sedikit membaik dibandingkan 15,1 persen pada Januari-Agustus.

SNE Research menilai perlambatan BYD berasal dari pasar domestiknya. Penjualan EV BYD di Tiongkok anjlok 32,9 persen year-on-year, sementara instalasi baterainya di negeri Tirai Bambu turun 7,1 persen menjadi 104,9 GWh dari sebelumnya 112,9 GWh.

Sebaliknya, instalasi baterai BYD di luar Tiongkok justru melesat 66,8 persen year-on-year menjadi 45,9 GWh dari 27,5 GWh. Penjualan kendaraan BYD di luar negeri mencapai sekitar 180.000 unit pada September, lebih dari dua kali lipat dibanding tahun lalu dan menyumbang hampir 40 persen dari total penjualan.

Perbedaan strategi kedua perusahaan ini membuat jarak pertumbuhan keduanya melebar hingga 17,5 poin persentase. CATL kian agresif memperluas pasar luar negeri, sementara pasokan baterai BYD masih terikat erat pada penjualan kendaraan mereka sendiri.

Di posisi ketiga, LG Energy Solution (LGES) asal Korea Selatan mencatatkan 81,9 GWh atau hanya naik 0,7 persen year-on-year. Pangsa pasarnya turun menjadi 8,2 persen dari 9,8 persen, meski tetap memasok Tesla, GM, Hyundai Motor Group, dan Volkswagen.

Instalasi LGES di Eropa naik 13,2 persen menjadi 38,6 GWh, sedangkan di Asia melonjak 49,4 persen menjadi 11,1 GWh. Namun, instalasi di Amerika Utara justru anjlok 44,9 persen menjadi 16,5 GWh dari 29,9 GWh, sehingga menutupi sebagian besar keuntungan tersebut.

Peta persaingan berubah di posisi keempat. Gotion High-tech (SZSE: 002074) menyalip CALB dengan torehan 50,3 GWh atau tumbuh 48,1 persen year-on-year, sekaligus menaikkan pangsanya menjadi 5,1 persen dari 4,1 persen. Gotion hanya unggul tipis 0,2 GWh atas CALB yang berada di peringkat kelima dengan 50,1 GWh.

Eve Energy (SZSE: 300014) melesat ke posisi keenam dengan 36,0 GWh atau naik 60,4 persen, menyalip Panasonic asal Jepang. Sebaliknya, Panasonic turun ke peringkat ketujuh dengan 35,6 GWh atau turun 0,8 persen, lantaran pasokan utamanya untuk model Tesla di Amerika Utara ikut menyusut menjadi 34,9 GWh.

SK On menempati posisi kedelapan dengan 28,3 GWh atau turun 18,1 persen, penurunan terdalam di antara sepuluh besar. Instalasi SK On di Amerika Utara anjlok 46,7 persen menjadi 7,6 GWh dari 14,2 GWh. Sementara itu, Svolt Energy di posisi kesembilan tumbuh 37,9 persen menjadi 25,7 GWh.

Rept Battero Energy (HKEX: 666) melengkapi sepuluh besar dengan lonjakan instalasi 118,7 persen menjadi 24,2 GWh, unggul sekitar 1,2 GWh atas Sunwoda di posisi kesebelas. Secara keseluruhan, tujuh perusahaan Tiongkok di sepuluh besar menguasai 73,0 persen pasar, naik 3,5 poin persentase dari 69,5 persen setahun lalu.

Sebaliknya, tiga perusahaan Korea Selatan hanya menggenggam 12,6 persen pangsa atau turun 4,1 poin persentase. Dari sisi kawasan, instalasi di Tiongkok naik 16,2 persen menjadi 567,8 GWh, Eropa tumbuh 33,1 persen, Asia di luar Tiongkok melonjak 74,1 persen, dan Amerika Selatan melesat 176,8 persen.

Adapun Amerika Utara mencatat penurunan instalasi 24,3 persen menjadi 85,9 GWh. Dominasi produsen Tiongkok ini sejalan dengan teknologi SHS yang turut mendorong ekspansi kendaraan listrik mereka ke pasar global.

Dari sisi teknologi, pangsa baterai lithium iron phosphate (LFP) naik menjadi 57,7 persen dari 52,5 persen setahun sebelumnya. Rata-rata kapasitas baterai per kendaraan juga meningkat 11,2 persen menjadi 39,7 kWh dari 35,7 kWh, sehingga pertumbuhan instalasi baterai lebih cepat daripada penjualan kendaraan.

Pergeseran lanskap ini turut tercermin dari geliat pabrikan seperti JAECOO J5 EV dan berbagai model hybrid yang kian membanjiri pasar. Di sisi lain, produsen Jepang seperti Mitsubishi Outlander juga menyiapkan strategi elektrifikasi untuk bersaing.

[MAKSIMUM 16 PARAGRAF TERCAPAI — TOTAL 16 PARAGRAF BODY]