Technologue.id, Jakarta - Binance mengungkap kronologi serangan siber yang menyebabkan aset kripto senilai US$ 6,34 miliar atau sekitar Rp 105 triliun terdampak pencurian. Dalam aksinya, peretas diduga menggunakan modus wawancara kerja palsu untuk menyusup ke sistem internal perusahaan.
Berdasarkan temuan FBI, serangan yang terjadi pada 29 Oktober tersebut dikaitkan dengan Korea Utara. Binance menyebut aksi peretasan ini sudah direncanakan sejak beberapa bulan sebelumnya.
Dikutip dari Engadget, Kamis (5/11/2026), upaya penyusupan pertama terdeteksi pada Juni. Saat itu, seorang insinyur Wallet DevOps Binance mengunduh perangkat lunak yang telah dimanipulasi melalui mesin pencari untuk digunakan bersama alat pemrograman berbasis kecerdasan buatan (AI).
Binance berhasil mendeteksi aktivitas mencurigakan tersebut dan mengambil tindakan. Namun, insiden itu diduga membuat informasi mengenai rekan kerja sang insinyur terekspos kepada penyerang.
Pada September, peretas kembali menjalankan aksinya dengan menyasar insinyur perangkat lunak Binance melalui modus rekrutmen palsu.
Pelaku menghubungi korban melalui platform pencarian kerja resmi dan mengaku sebagai perwakilan sebuah perusahaan. Korban kemudian mengikuti dua tahap wawancara, termasuk panggilan video dengan seseorang yang mengaku sebagai staf HR.
Untuk meyakinkan korban, pelaku bahkan membagikan akun media sosial pribadinya. Pada tahap berikutnya, korban diminta mengerjakan tugas yang dikirim oleh sosok yang mengaku sebagai CEO perusahaan tersebut.
Namun, berkas tugas yang diunduh ternyata berisi malware. Perangkat lunak berbahaya itu kemudian berjalan saat proses instalasi.
Binance menjelaskan malware tersebut menggunakan teknik penyamaran dan penghindaran deteksi yang canggih. Pelaku bahkan mengganti komponen perangkat pengembangan asli dengan versi berbahaya untuk menjalankan perintah tertentu sekaligus menghapus jejak penyusupan.
Pada 20 Oktober, penyerang memanfaatkan komputer insinyur yang sudah terinfeksi untuk mengakses perangkat AI internal Binance. Dari sana, mereka berusaha mengambil alih komputer sejumlah karyawan lainnya.
Puncaknya terjadi pada 29 Oktober. Penyerang menggunakan kredensial yang telah dicuri untuk masuk ke komputer insinyur lain dan menjalankan skrip berbahaya guna melancarkan pencurian aset digital.
Dari total aset senilai US$ 6,34 miliar yang terdampak, Binance menyatakan sekitar US$ 2,85 miliar telah berhasil dibekukan. Perusahaan juga mengakui sejumlah transaksi masih dapat berjalan meskipun penarikan dana sudah dihentikan karena transaksi tersebut telah memperoleh otorisasi sebelumnya.
Binance kemudian membangun ulang sistem dompet dan perangkat AI internal yang terdampak, mengganti perangkat yang terinfeksi, serta menonaktifkan kredensial dan token yang telah disusupi.
Perusahaan juga meningkatkan sistem keamanan dengan teknologi deteksi anomali berbasis AI dan melakukan pemindaian menyeluruh terhadap perangkat karyawan.
Binance menegaskan akan menanggung seluruh kerugian finansial akibat insiden tersebut. Perusahaan mengklaim telah memulihkan 98% aset token yang terdampak dan tengah membeli sisa aset yang memiliki likuiditas lebih rendah.