Jakarta, Technologue.id — Keputusan untuk tidak memakai aplikasi pelacak lokasi demi memantau anak ternyata bukan sekadar sikap anti-teknologi. Seorang ibu mengungkap pengalamannya selama hampir satu dekade menolak menggunakan Life360, aplikasi populer di kalangan orang tua untuk memantau keberadaan anggota keluarga. Baginya, aplikasi itu hanya alat memata-matai anak, sesuatu yang tak pernah ingin ia lakukan.

Life360 sendiri dipasarkan sebagai cara berkoordinasi dalam keluarga, mulai dari mengatur jadwal hingga memeriksa lokasi tiap anggota. Aplikasi ini juga menawarkan fitur keamanan yang menarik bagi orang tua dengan pengemudi baru. Namun, sang ibu tetap pada pendiriannya, bahkan ketika anak tertuanya mulai mengemudi pada 2020 dan anak perempuannya menyusul tiga tahun kemudian.

Keputusan itu sempat diuji. Banyak orang tua teman-teman anaknya memilih memasang aplikasi pelacak, dan ia sempat mempertimbangkan hal yang sama. Namun, ia mengingat nasihat seorang terapis saat membahas pola asuh di masa pandemi. "Ingat bagaimana rasanya seusia mereka," kata terapis itu, seraya meminta ia membayangkan apa yang dirasakan anak-anaknya.

Nasihat itu membantunya di banyak situasi pengasuhan, termasuk saat memutuskan soal pelacakan. Ia merefleksikan emosi dan pikirannya di usia yang sama, ketika ingin mandiri, belajar mengambil keputusan, dan mempercayai penilaian sendiri. Orang tuanya dulu tak punya kemampuan melacak, dan ia yakin jika pun ada, ia akan mencari cara mengakalinya seperti remaja masa kini.

Bukti Aplikasi Tak Selalu Efektif

Pengalaman di sekitarnya justru memperkuat keyakinannya. Saat anaknya duduk di bangku SMA, ibu dari salah satu temannya menelepon karena anaknya tak menjawab panggilan. Aplikasi pelacak menunjukkan sang anak berada di rumahnya, padahal ia tidak ada di sana. Ternyata hanya ponselnya yang tertinggal.

Contoh lain datang dari seorang kenalan yang melacak anaknya di kampus dan mendapati sang anak membolos kelas. Aplikasi itu tidak mencegah remaja berbohong atau membuat pilihan buruk. Fakta ini menunjukkan bahwa teknologi pemantauan punya keterbatasan mendasar dalam membentuk perilaku.

Seiring berkembangnya fitur pengawasan digital, sejumlah platform lain juga memperketat pengaturan untuk remaja. Instagram dan Facebook misalnya menerapkan sejumlah perubahan besar demi keamanan pengguna muda. Ada pula kebijakan yang membuat Instagram akan lapor orang tua bila remaja berulang kali mencari istilah terkait bunuh diri.

Di sisi lain, layanan keuangan digital juga mulai menyasar keluarga dengan fitur khusus. Google Wallet kini punya fitur kirim uang untuk anak, sementara OpenAI memperkuat keamanan ChatGPT bagi remaja lewat fitur terbaru. Tren ini menegaskan bahwa teknologi keluarga terus berkembang, namun tak semua orang tua merasa perlu mengadopsinya.

Meski menolak melacak, kesepakatan tetap dibuat bersama anak-anaknya. Mereka wajib mengirim pesan saat meninggalkan suatu lokasi dan saat tiba di tujuan berikutnya. Mereka juga harus memberi kabar jika rencana berubah, serta membalas pesan dari ibunya dengan cepat.

Kesepakatan itu berjalan dengan kebijakan tanpa toleransi. Jika ia mendapati anaknya berbohong atau menyalahgunakan kesepakatan, aplikasi pelacak akan langsung dipasang di ponsel mereka. Ancaman itu ternyata tak pernah perlu dijalankan hingga kedua anaknya beranjak dewasa.

Anak laki-lakinya kini berusia 22 tahun dan telah menyelesaikan kuliah, sedangkan anak perempuannya hampir 19 tahun dan duduk di semester dua. Ia mengaku sering mendengar ibu-ibu lain membahas bagaimana pelacakan memberi ketenangan karena anak mereka aman. Hal itu kadang membuatnya ragu pada keputusannya sendiri.

Namun ketika melihat anak-anaknya yang bukan lagi anak kecil, ia bersyukur pernah memilih tidak melacak. Ia menghormati mereka sebagai orang dewasa muda dan mencintai hubungan dekat yang terjalin. Ia percaya mereka mampu memakai penilaian yang baik, meski tahu kadang mereka akan keliru.

Baginya, belajar dari kesalahan adalah bagian dari menjadi dewasa, jauh lebih penting daripada ibu yang mengawasi setiap gerak-gerik anaknya. Pandangan ini menawarkan sudut berbeda di tengah derasnya adopsi teknologi pemantauan keluarga, sekaligus mengingatkan bahwa kepercayaan kerap jadi fondasi hubungan yang lebih sehat.

Perdebatan soal batas pengawasan digital dalam keluarga memang tak akan surut. Seiring makin canggihnya aplikasi dan layanan berbasis lokasi, orang tua dihadapkan pada pilihan antara rasa aman instan dan ruang tumbuh bagi anak. Pengalaman sang ibu menunjukkan keduanya bisa berjalan seiring, asalkan dibangun di atas komunikasi dan kesepakatan yang jelas.

Ia pun mengajak orang tua lain untuk mempertimbangkan ulang dorongan melacak anak secara terus-menerus. Menurutnya, memahami sudut pandang remaja dan memberi mereka tanggung jawab bisa jadi jalan yang lebih baik. Pada akhirnya, kepercayaan yang dibangun sejak dini terbukti memperkuat hubungan ketika anak beranjak dewasa.