Jakarta, Technologue.id — Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) menyatakan kesiapannya menanamkan modal di proyek etanol. Langkah ini menjadi bagian dari upaya pemerintah memperkuat ketahanan energi nasional. Investasi tersebut mencakup pengembangan perkebunan tebu hingga pembangunan pabrik etanol.

Chief Operating Officer (COO) Danantara sekaligus Kepala Badan Pengaturan BUMN, Dony Oskaria, menyebut investasi di etanol sebagai salah satu langkah strategis pihaknya. Menurut dia, proyek ini mendukung program swasembada energi yang tengah digenjot pemerintah. Namun, Dony belum memerinci nilai investasi maupun lokasi proyek yang akan dikembangkan.

Pemerintah sendiri menargetkan penggunaan bahan bakar dengan campuran etanol secara bertahap. Tahap awal dimulai dari E20, yakni bensin dengan campuran 20 persen etanol. Target akhirnya adalah mencapai swasembada energi sekaligus menekan impor bahan bakar.

"Ke depan kita harapkan sama dengan bensin. Beberapa negara sudah ada E50. Kita juga dalam rangka untuk menjadikan negara kita swasembada energi, mulai memikirkan E20 dulu," kata Dony saat ditemui seusai acara Executive Breakfast Meeting Dua Tahun Danantara di Jakarta, Jumat (2/10).

Demi mendukung program tersebut, Danantara akan berinvestasi dalam pengembangan ekosistem etanol. Cakupannya mulai dari penanaman tebu sebagai bahan baku hingga pembangunan fasilitas produksi etanol. Dony menegaskan, tebu menjadi salah satu bahan baku utama yang akan dikembangkan untuk produksi etanol.

Karena itu, pemerintah juga akan mendorong peningkatan penanaman tebu. Tujuannya memastikan ketersediaan bahan baku tetap terjaga sepanjang siklus produksi. "Termasuk membangun pabrik etanol, menanam, kemudian membangun pabrik etanol juga," ujarnya.

Dony menambahkan, rencana ini sejalan dengan perintah pemerintah agar proyek-proyek investasi selesai dalam tiga tahun. Tenggat tersebut menjadi acuan bagi Danantara dalam menyusun skema pembiayaan dan pelaksanaan. Dengan begitu, percepatan pembangunan infrastruktur energi bisa terwujud.

Rencana investasi Danantara tersebut sejalan dengan program pemerintah untuk meningkatkan penggunaan etanol dalam bahan bakar. Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menuturkan, pembangunan pabrik etanol akan melibatkan BUMN dan sektor swasta. Dia memperkirakan pembiayaan dapat berasal dari BUMN sekitar 30 persen dan swasta 70 persen.

Namun, porsi BUMN masih dapat meningkat bergantung pada kapasitas pembiayaan perusahaan negara. "Anggarannya mungkin 30% dari BUMN, 70% dari swasta," ujar Amran. Menurut dia, porsi pembiayaan BUMN dapat mencapai 30 persen, 40 persen, bahkan 50 persen apabila kemampuan pendanaan mencukupi.

Setelah kapasitas BUMN dimaksimalkan, pemerintah akan mendorong keterlibatan swasta. "Pokoknya berapa kemampuan BUMN, sesudah itu swasta. Dan swasta pasti antre," tuturnya. Amran optimistis investor swasta akan tertarik masuk ke proyek ini.

Amran mengatakan, kepastian lahan menjadi salah satu faktor penting untuk menarik investasi swasta. Pemerintah akan mengawal penentuan lahan hingga aspek legalitasnya. Dengan demikian, risiko investasi yang dihadapi mitra swasta bisa ditekan sejak awal.

Pemerintah akan mengembangkan penggunaan etanol secara bertahap, dari E5 dan E10 menuju E20 pada 2029. Penggunaan campuran etanol kemudian ditargetkan meningkat hingga E40 pada 2030-2031. Peta jalan ini menjadi acuan bagi pelaku industri dalam menyiapkan kapasitas produksi.

Selain program etanol, pemerintah juga menjalankan program biodiesel B50 untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan bakar. Kombinasi kedua program ini dinilai saling melengkapi dalam mendorong kemandirian energi. Implementasinya pun akan berjalan paralel di sektor bahan bakar nabati.

Amran memperkirakan kombinasi pengembangan etanol dan implementasi B50 berpotensi menghemat devisa hingga US$30 miliar atau sekitar Rp500 triliun per tahun jika berjalan penuh. "Kalau seluruhnya bisa selesai, E50 dengan B50 itu US$ 30 miliar. Artinya kurang lebih Rp500 triliun per tahun kita hemat devisa kita," ucapnya.

Langkah Danantara ini juga menegaskan peran sovereign wealth fund dalam mendukung proyek strategis nasional. Sebelumnya, Danantara juga terlibat dalam sejumlah tender proyek energi dan pengelolaan BUMN. Salah satunya terlihat dari Tender Proyek Danantara di sektor waste-to-energy.

Di sisi lain, pemerintah terus membenahi kebijakan energi, termasuk rencana penghapusan bahan bakar bersubsidi yang mendapat tanggapan dari berbagai pihak. Respons industri otomotif terhadap kebijakan itu turut mewarnai dinamika transisi energi nasional, seperti disorot dalam pemberitaan soal Rencana Penghapusan Pertalite.

Dengan skema yang mencakup hulu hingga hilir, proyek etanol diharapkan memperkuat industri nasional sekaligus membuka lapangan kerja baru. Transformasi BUMN yang tengah berjalan, seperti yang dilakukan Telkom Tuntaskan Streamlining, menjadi fondasi penting bagi eksekusi proyek berskala besar ini. Pemerintah pun menargetkan seluruh rangkaian proyek selesai sesuai tenggat tiga tahun.