Jakarta – Perempuan memegang peran strategis dalam menjaga ketahanan pangan nasional, mulai dari produksi hingga distribusi. Data Food and Agriculture Organization (FAO) PBB mencatat perempuan menyumbang sekitar 41 persen tenaga kerja pertanian global. Di Indonesia, sekitar 14,8 juta perempuan bekerja di sektor pertanian sempit hingga Februari 2025, mencakup budidaya tanaman pangan, hortikultura, dan perkebunan.
Jumlah itu menegaskan besarnya kontribusi perempuan terhadap ketahanan pangan dan ekonomi rumah tangga. Namun, kontribusi tersebut masih menghadapi sejumlah tantangan. Mulai dari akses permodalan, literasi digital, hingga dampak perubahan iklim yang kian terasa di sektor pertanian.
Menjawab kebutuhan itu, Amartha Financial sejak 2010 menyediakan pembiayaan produktif bagi UMKM di akar rumput. Sasarannya termasuk perempuan yang berperan dalam rantai pangan di perdesaan. Momentum Hari Perempuan Perdesaan Internasional yang diperingati setiap 15 Oktober menjadi pengingat pentingnya dukungan nyata bagi perempuan petani, nelayan, dan UMKM perdesaan.
Sepanjang tahun 2025, hampir 30 persen mitra Amartha bergerak di sektor pertanian dan peternakan. Dengan pendampingan, perempuan di perdesaan dapat terus mengembangkan usaha, memperkuat ketahanan pangan, sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi di komunitasnya. Langkah ini sejalan dengan upaya memperkuat Rantai Pasok Berkelanjutan dari sektor paling dasar.
Founder dan CEO Amartha Financial, Andi Taufan, menyatakan pihaknya konsisten memperkuat ekosistem UMKM melalui akses permodalan dan pendampingan. Amartha juga memberikan kesempatan memperluas akses pasar bagi perempuan di perdesaan. "Dukungan permodalan dan pendampingan yang kami lakukan berhasil mendukung hampir 99.000 mitra di perdesaan untuk membuka lapangan kerja baru, di mana 97 persen dari total lapangan kerja baru tersebut diisi oleh perempuan," ujarnya.
Ketangguhan perempuan perdesaan tercermin dari kisah Ibu Sumarni, petani palawija asal Kabupaten Sukoharjo. Ia bukan hanya petani, tetapi juga tulang punggung keluarga yang menekuni usaha palawija lebih dari 7 tahun. Sebelum menanam palawija, Ibu Sumarni sempat menanam melon, tetapi terkendala modal untuk mengembangkan usahanya.
Titik balik hadir ketika ia bergabung menjadi mitra Amartha 5 tahun lalu. Ibu Sumarni memperoleh dukungan pembiayaan yang digunakan untuk keberlanjutan usaha tanam palawija. "Berkat modal dari Amartha, saya bisa lebih leluasa mengembangkan usaha palawija ini. Kebanyakan pembeli tinggal di sekitar rumah, jadi mereka bisa langsung membeli hasil panen," kata Ibu Sumarni.
Ia mengaku bisa mendapat penghasilan hingga Rp500.000 setiap dua hari, terutama saat harga sedang bagus. Meski harus menjalani pekerjaan berat saat mengolah tanah, mulai dari memupuk, mencangkul, hingga meratakan tanah, hasil jerih payahnya mampu membiayai kebutuhan harian keluarga dan pendidikan anak. Ia berharap usahanya terus berkembang agar sang anak memiliki masa depan lebih baik.
Pemberdayaan ekonomi perempuan perdesaan juga merambah sektor kelautan melalui kisah Ibu Mariani. Ia adalah perempuan petani rumput laut dari Kota Bau-Bau, Sulawesi Tenggara, yang berhasil memperluas kapasitas usahanya berkat akses pembiayaan dan pendampingan dari Amartha. Empat tahun lalu, ia memulai usaha dari beberapa helai rumput laut yang dijemur di belakang rumah.
Pendapatan Ibu Mariani tidak selalu stabil karena sangat dipengaruhi cuaca, pasang surut, dan kondisi laut. Meski begitu, ia tetap bertahan hingga akhirnya bergabung menjadi mitra Amartha. Ia mendapatkan dukungan pembiayaan dan pendampingan usaha yang digunakan untuk memperluas area budidaya. Hasilnya, produksi meningkat dan pendapatan mengalami kenaikan.
"Usaha rumput laut ini membantu saya menyekolahkan anak-anak, bekal masa depan mereka. Pembiayaan dan pendampingan dari Amartha membuat produksi usaha saya bisa terus berkembang dan pendapatan meningkat," jelas Ibu Mariani. Selain memastikan anak-anaknya tetap bersekolah, usaha itu juga memberi manfaat bagi warga sekitar.
Kini, ia melibatkan beberapa tetangga yang sebagian besar merupakan ibu rumah tangga untuk membantu memanen dan menjemur rumput laut. Langkah ini menambah penghasilan bagi para ibu di lingkungannya. Kisah tersebut menunjukkan bagaimana akses modal dapat menggerakkan ekonomi desa secara lebih luas dan berkelanjutan.
Selain menyediakan pembiayaan produktif, Amartha memperluas dukungannya melalui Amartha Empower. Ini adalah portal penggalangan donasi dan zakat yang dinaungi Amartha.org, yayasan yang dibangun Amartha untuk mendorong dampak berkelanjutan bagi masyarakat daerah. Salah satu inisiatifnya adalah pemulihan ketahanan pangan masyarakat terdampak banjir bandang di Kabupaten Agam, Sumatera Barat.
Dukungan tersebut mencakup pemulihan saluran irigasi yang mengairi lahan pertanian bagi lebih dari 900 kepala keluarga atau hampir 3.000 jiwa. Selain itu, diberikan hewan ternak sapi untuk mendukung produksi kompos. "Dengan pulihnya irigasi, lahan pertanian mulai kembali produktif. Kami berharap upaya ini dapat memulihkan perekonomian sekaligus meningkatkan kepercayaan diri masyarakat untuk bangkit kembali," kata Andi Taufan.
Upaya pemulihan juga diperkuat melalui pelatihan tata kelola organisasi, manajemen keuangan, produksi, dan pemasaran bagi kelompok tani serta UMKM penyintas bencana. Langkah ini diharapkan membantu masyarakat kembali produktif sekaligus memperkuat ketahanan pangan dan menjaga keberlanjutan ekonomi lokal. Pendekatan menyeluruh ini menjadi kunci agar dampak pemberdayaan terasa dalam jangka panjang.
"Pemberdayaan perempuan perdesaan bukan hanya sebatas memberikan akses permodalan, melainkan tentang membangun ekosistem berkelanjutan agar mereka dapat terus tumbuh menjadi motor penggerak ekonomi dan ketahanan pangan," tutup Andi Taufan. Melalui ekosistem layanan keuangan digital yang dikembangkan Amartha, pihaknya akan terus hadir mendukung perempuan di perdesaan agar berdaya dan mandiri.